Ahad, 1 Mac 2020

TEORI TAIMIYAH MENGENAI NEGARA

Antara ilmuan yang banyak menyentuh mengenai teori politik Islam ialah Ibnu Taimiyah. Beliau memberi penelitian kritis terhadap teori khilafah yang berkembang pada masanya. Ia menyentuh mengenai perlunya kepada pendekatan yang lebih kritis terhadap pemerintahan Islam.

Ibnu Taimiyah menemukan metodologi yang mempermasalahkan amalan kehidupan dan pandangan pada masanya yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. 

Penyimpangan itu disebabkan oleh berbagai faktor, terutama taklid buta terhadap perilaku bidah atau fitnah yang menyesatkan.

Dengan mengambil peranan sebagai pengawal terhadap pelbagai peristiwa yang ada, Ibnu Taimiyah menyajikan teori politik Islam yang diharapkan mampu menutup keterbatasan pada teori tersebut dengan mengajukan kekhalifahan klasik.

Ibnu Taimiyah tidak hanya mengkritik teori kekhalifahan, tetapi juga tidak memandang perlunya kekhalifahan sama sekali. Ia meragukan kebenaran pendapat bahawa kekhalifahan berasal dari Al-Quran dan As-sunnah.

Padanya, latar belakang sejarah Khulafaur-Rasyidin yang dianggapnya tidak lebih dari keadaan yang tidak disengajakan, dan bukan sebuah contoh dari kehidupan.

Amalan kehidupan Rasullulah SAW sendiri tidak dilihat oleh Ibnu Taimiyah dasar asas untuk mengamalkan bentuk pemerintahan tertentu. 

Menurut pendapatnya, bentuk pemerintahan Nabi SAW dan Khalifah Rasyidin tidak dapat berfungsi sebagai dasar teori politik dalam Islam. Begitu juga sistem pemerintahan pada masa Khalifah Rasyidin.

Dengan menolak bahawa amalan sejarah dapat berlaku sebagai dasar bagi falsafah politik, Ibnu Taimiyah mampu menghindarkan dirinya dari “kesalahan menilai kekuatan politik yang ada sebagai kekuasaan yang diwarisi oleh bayangan khalifah”.

Konsep Ibnu Taimiyah mengenai keperluan manusia akan negara didasarkan pada akal dan hadis. 

Persoalan rasionalnya terletak pada keperluan universal semua manusia untuk tergabung, bekerja sama dan menikmati berbagai manfaat kepemimpinan tanpa peduli apakah mereka menganut suatu agama atau tidak.

Persoalan rasional itu juga diperkuat oleh beberapa landasan Sunnah Nabi SAW. Contohnya sabda Nabi SAW, “bila ada tiga orang melakukan perjalanan, maka salah seorang di antara mereka selayaknya menjadi pemimpin,”

Ibnu Taimiyah berpendapat bahawa amalan pengukuhan sebuah pemerintahan harus dianggap sebagai tugas agama yang mesti dipatuhi oleh setiap muslim di samping sebagai sarana agar manusia mempunyai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Memang, istilah negara tidak disentuh dalam Al-Quran maupun as-Sunnah, tetapi unsur-unsur perlu ada yang menjadi dasar negara dapat ditemukan dalam kitab suci itu. 

Umpamanya, Al-Quran menjelaskan prinsip atau fungsi yang dapat diterjemahkan dengan adanya tata tertib sosio-politik atau segenap perlengkapan bagi tegaknya sebuah negara. Termasuk di dalamnya adalah keadilan, persaudaraan, ketahanan, kepatuhan dan kehakiman.

Dalam Al-Quran, dapat ditemukan hukum-hukum yang bersifat umum atau hukum yang secara langsung berkaitan masalah pembahagian harta rampasan perang (ghanimah) atau upaya untuk menciptakan perdamaian.

Dengan kata lain, ummat Islam dinyatakan sebagai suatu masyarakat yang berbeda dengan masyarakat-masyarakat lain kerana kebijakan yang mereka miliki, yang mendasari sifat-sifat mereka. Ringkasnya, ummat Islam adalah suatu masyarakat politik yang sanggup mencukupi diri sendiri.

Lebih dari itu, berbagai tugas keagamaan penting yang ditentukan dalam Al-Quran dan As-Sunnah seperti mengumpulkan zakat, menghukum tindakan kriminal, distribusi manfaat di kalangan yang berhak menerimanya dan organisasi jihat tidak dapat terlaksana dengan sempurna tanpa intervensi penguasa politik yang resmi.

Aspek fungsi negara inilah yang seringkali ditekankan Ibnu Taimiyah dalam berbagai pandangan tentang negara. Ia mengatakan bahawa negara dan agama sesungguhnya saling berkaitan. 

Tanpa kekuasaan negara agama berada dalam keadaan bahaya sedangkan tanpa disiplin hukum wahyu, negara pasti menjadi sebuah organisasi yang menyalahguna kuasa.

Mendirikan sebuah negara bererti menyediakan fungsi yang besar untuk menegakkan sebuah keadilan. 

Menegakkan keadilan bererti melaksanakan perintah dan menghindar dari kejahatan dan memasyarakatkan tauhid serta mempersiapkan bagi munculnya sebuah masyarakat yang hanya mengabdi kepada Allah.

Ibnu Taimiyah dengan metodologi reformisnya, berjuang untuk mengalihkan perhatian dari kepimpinan khilafah kepada kewajiban ummat Islam untuk memiliki kekuasaan politik meskipun ciri utamanya tidak sama dengan khilafah atau imamah.

Ciri utama itu adalah penerapan syariat melalui berbagai upaya kerjasama antara umara dan ulama. 

Jadi, menurut pendapatnya, suatu negara Islam tidak wajib mempunyai seorang khalifah sebagai pucuk pimpinan atau demi menandai ciri umum dalam rangka mewujudkan masyarakat yang “Islami”.

Suatu bentuk pemerintahan yang meletakkan syariat sebagai penguasa tertinggi adalah gambaran dari pemerintah Islam yang memenuhi syarat. Ibnu Taimiyah melihat semua warga di berbagai negara Islam sebagai satu masyarakat yang disebut dengan ummah.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan